Ssht.
Diam membisu.
Meratapi penyesalan yang tak henti-hentinya menghantui. Kali ini aku benar-benar tidak berani bernafas, tidak berani melihat semburat cahaya matahari esok pagi. Ingin pergi selama-lamanya rasanya. Ingin menghilang, ingin mati.
Hampir saja terjadi kemarin malam.
Kalau bukan karena ingatku pada Tuhan, mungkin hari ini aku tinggal nama. Benar ternyata, beberapa mencelaku, seakan mereka mengerti apa yang kuhadapi saat ini. Padahal.. Berani membayangkannya saja tidak. Menurut mereka ini terlalu tabu, terlalu dibuat-buat, terlalu kejam untuk ukuran kehidupan sekarang ini.
Hey, tapi ini kenyataannya. Aku menghadapinya sendiri. Berada di antara duka dan pilu, berada di antara hitam dan putihnya hidup, berada di sebuah perbatasan antara dua hal yang hampir tak memiliki perbedaan.
Bingung.
Bingung harus apa. Bingung apa yang harus dilakukan. Bingung harus bagaimana bersikap. Semua yang kulakukan serba salah. Alasanku tak lagi di dengar. Pembelaan berarti menentang. Padahal, diri siapa yang ingin disalahkan atas sesuatu yang bukan salahnya? Coba beri tahu aku kalau kau tahu jawabnya.
Ujian semakin dekat, tapi diriku dan diriNya semakin berjarak. Aku sadar ini salah, aku tahu, tapi entah mengapa.. Susah rasanya kembali ke jalan yang benar. Kucoba untuk bangun di tengah malam, tapi ternyata telinga ini terlalu tuli untuk mendengar jeritan weker setiap pagi. Padahal ingin rasanya aku mengadu, memohon ampun, meminta yang terbaik dariNya. Ingin rasanya aku mengemis tengah malam memohon kasihNya, memohon ridhaNya, memohon peluk kasih sayangNya yang melebihi kasih sayang seluruh manusia di bumi ini. Ingin, dan aku butuh keinginan itu menjadi kenyataan.
Mungkin aku harus berusaha lebih keras lagi.
Mungkin taubat adalah jawaban atas semua kebingunganku selama ini. Atau mungkin itu semua bukan lagi mungkin, tapi harus.
Berjuang, diri. Jaga tutur kata dan sikap. Semua akan indah pada waktunya, pada jalanNya.